Selasa, 26 November 2013

MODEL PENGELOLAAN SEKOLAH BERWAWASAN LINGKUNGAN MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA



Apa itu Adiwiyata ? Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam upaya rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dahulu dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.
Tujuan Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah agar menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid dan pekerja lainnya), sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya – upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Program Adiwiyata dikembangkan berdasarkan norma – norma dalam berperikehidupan yang antara lain meliputi: kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam.
Sebagai salah satu penghuni planet bumi ini, kita berkewajiban menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Mengikuti pesan KH. Abdulah Gymnasiar yaitu dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang terkecil, dan dimulai saat ini juga.

Empat aspek yang harus menjadi perhatian sekolah untuk dikelola dengan cermat dan benar apabila mengembangkan Program Adiwiyata yakni ; Kebijakan, Kurikulum, Kegiatan, dan Sarana Prasarana. Sehingga secara terencana Pengelolaan aspek-aspek tersebut harus diarahkan pada indikator yang telah ditetapkan dalam program Adiwiyata.
  1. Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan,
  2. Kurikulum Berbasis.. Lingkungan,
  3. Kegiatan Berbasis Parisipatif dan
  4. Sarana dan Prasarana Pendukung Ramah Lingkungan.

1. Pengembangan Kebijakan Sekolah.
Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan maka diperlukan model pengelolaan sekolah yang mendukung dilaksanakannya pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Program Adiwiyata yakni Partisipatif dan Berkelanjutan. Pengembangan Kebijakan Sekolah yang diperlukan untuk mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan tersebut antara lain ;
  1. Visi dan Misi Sekolah yang Peduli dan Berbudaya Lingkungan.
  2. Kebijakan Sekolah dalam mengembangkan Pendidikan Lingkungan Hidup.
  3. Kebijakan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) baik Pendidikan maupun tenaga Kependidikan dibidang Pendidikan Lingkungan Hidup.
  4. Kebijakan Sekolah dalam hal penghematan Sumber Daya Alam
  5. Kebijakan Sekolah yang mendukung terciptanya Lingkungan Sekolah yang Bersih dan Sehat.
  6. Kebijakan Sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan yang terkait dengan lingkungan hidup.


2. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para peserta didik dapat dilakukan melalui kurikulum belajar yang bervariasi, dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan sehari-hari. Pengembangan kurikulum berbasisi lingkungan hidup mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan dapat dicapai dengan melakukan hal-hal berikut ini :
  1. Pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran,
  2. Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar,
  3. Pengembangan metode belajar berbasis lingkungan dan budaya,
  4. Pengembangan kegiatan kurikuler untuk peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup.


3. Pengembangan Kegiatan Berbasis Parsitipatif
Untuk mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan, warga sekolah perlu dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup. Selain itu sekolah juga diharapkan melibatkan masyarakat di sekitarnya dalam melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat baik bagi warga sekolah, masyarakat maupun lingkungannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh warga sekolah dalam pengembangan kegiatan berbasis partisipatif antara lain :
  1. Menciptakan kegiatan ekstrakurikuler/kurikuler di bidang lingkungan hidup berbasis partisipatif di sekolah,
  2. Mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar,
  3. Membangun kegiatan kemitraan atau memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah.



4. Pengelolaan dan atau pengembangan Sarana Pendukung Sekolah
Dalam mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan sarana prasarana yang mencerminkan upaya pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan dan pengembangan sarana tersebut antara lain :
  1. Pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah yang ada untuk pendidikan lingkungan hidup,
  2. Peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar kawasan sekolah,
  3. Penghematan sumberdaya alam (listrik, air dan ATK),
  4. Peningkatan kualitas pelayanan makanan sehat,
  5. Pengembangan sistem pengelolaan sampah..


            Ada beberapa penghargaan dalam program Adiwiyata. Penghargaan Adiwiyata terbagi dalam 3 kategori yaitu Sekolah Adiwiyata Mandiri, Sekolah Adiwiyata, dan Sekolah Calon Adiwiyata. Adiwiyata Mandiri diberikan kepada sekolah-sekolah yang mampu mempertahankan program-program lingkungan hidup mereka selama tiga tahun berturut-turut. Meski demikian pada dasarnya program Adiwiyata tidak ditujukan sebagai suatu kompetisi atau lomba. Penghargaan Adiwiyata diberikan sebagai apresiasi kepada sekolah yang mampu melaksanakan upaya peningkatan pendidikan lingkungan hidup secara benar, sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sebagaimana disebutkan diatas, penghargaan adiwiyata tahapan pemberdayaan (selama kurun waktu kurang dari 3 tahun) dan tahap kemandirian (selama kurun waktu lebih dari 3 tahun). Pada tahap awal, penghargaan Adiwiyata dibedakan atas dua kategori, yaitu :

  • Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang dinilai telah berhasildalam melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup.
  • Calon sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang dinilai telah berhasil dalam pengembangan lingkungan hidup.


            Capaian akhir program adiwiyata adalah diharapkan terbentuk sekolah berwawasan lingkungan. Sekolah berwawasan lingkungan hidup adalah sekolah yang menerapkan nilai-nilai cinta dan peduli lingkungan pada sekolahnya. Pengajaran yang berbasisi lingkungan dan kesadaran warga sekolah akan pentingnya lingkungan merupakan bagian terpenting dari sekolah berwawasan lingkungan hidup.


Sumber : http://fabulouschool.tumblr.com/

Minggu, 29 September 2013


Cara Membuat Pupuk Kandang/Kompos

komposKompos/Pupuk Kandang merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik lainnya. Kompos yang digunakan sebagai pupuk disebut pupuk organik.
Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk kompos. Kompos dari kotoran ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan bangkai binatang bisa juga menjadi kompos.
Penggunaan Kompos/Pupuk Kandang sangat baik sebagai pupuk tanaman terutama sayur sebagai bahan pokok sehari-hari. Agar hasil tanaman berkualitas dan tidak mengandung resiko bahan kimia yang bisa menyebabkan berbagai faktor penyakit maka pakailah pupuk yang alami seperti Kompos/Pupuk Kandang.
Contoh sepele yakni sayur yang memakai pupuk non organik ulat saja tidak doyan makan daunnya. Maka tak heran dipasaran banyak sayur yang kelihatan bagus dan bersih. Padahal menurut hasil penelitian, sayuran yang baik dikonsumsi adalah sayuran yang terdapat sisa-sisa daun dimakan ulat sebagai bukti sayur tersebut bebas dari bahan kimia atau paling tidak hanya 70 % bahan kimianya.
Berikut langkah – langkah membuat pupuk Kompos dari kotoran hewan:
Persiapan Alat dan Bahan
a.    Peralatan
  • Sekop/Cangkul
  • Saringan/ayakan
  • Timbangan
  • Sepatu boot
  • Sarung tangan
b.    Bahan
  • Kotoran Ternak (2 ton/2000 kg)
  • Starter Stardec 0.25 % (5 kg)
  • Bahan Organik (sisa pakan/rumput alang-alang) secukupnnya
  • Kapur 3 % (60 kg)
 Proses Pembuatan Pupuk Kompos
a.    Penimbangan
Bahan yang sudah disiapkan ditimbang terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan standar formulasi yang sudah ditentukan.  Persentase penggunaan bahan tambahan disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku kotoran sapi  agar dalam proses dekomposisi sesuai dengan apa yang diharapkan.
b.    Pencampuran
Pencampuran bahan dilakukan dengan menaburkan bahan-bahan lain pada tumpukan kotoran sapi dengan komposisi;Kotoran Ternak (2 ton/2000 kg), Starter Stardec 0.25 % (5 kg), Bahan Organik (sisa pakan/rumput alang-alang) secukupnnya dan Kapur 2.5 % (50 kg) Penaburan dilakukan sedikit demi sedikit agar bahan tambahan tercampur dengan baik/ homogen.
c.    Penumpukan
Tumpukan bahan dibuat dengan diameter tinggi 1.5 sampai 2 meter dan panjang 2 meter membentuk kerucut. Hal ini bertujuan untuk mencapai temperatur tumpukan yang maksimum yaitu 60-70 ºC, hal ini dimaksudkan agar bahan baku kompos cepat dipanen.
d.   Monitoring
Pengontrolan dilakukan selama proses dekomposisi berlangsung yaitu setiap satu minggu sekali dengan melihat perubahan yang ditimbulkan. Pada proses dekomposisi, perubahan yang dihasilkan bisa dilihat pada waktu pembalikan berlangsung, yaitu suhu panas yang ditimbulkan bahan baku yang terdekomposisi, tekstur, aroma dan warna.
e.    Pembalikan
Pembalikan dilakukan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air (60 % kadara air bahan), serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
f.     Pendinginan
Setelah proses pengomposan berjalan selama 30-40 hari suhu tumpukan akan semakin menurun. Pada saat itu bahan kompos akan lapuk dan terlihat berwarna coklat tua serta tidak menimbulkan bau amoniak. Proses pendinginan berjalan selama 15 hari sampai kompos terasa dingin mencapai suhu ruangan yaitu 25 ºC.
g.    Penyaringan
Penyaringan dilakukan setelah proses pendinginan selesai sampai kompos benar-benar matang. Penyaringan bertujuan untuk menyelaraskan ukuruan partikel kompos serta memisahkan bahan-bahan yang tidak diharapkan seperti plastik atau benda yang tidak terdekomposisi.
h.    Panen/Pengemasan
Pengemasan bisa dilakukan dengan menggunakan karung atau wadah plastik, kompos sebaiknya disimpan di dalam gudang yang aman dari rayap dan kecoa serta terlindung dari hujan dan sinar matahari. Setelah itu kompos sudah bisa digunakan atau dipakai untuk keperluan pertanian.
Sumber : http://rumahmesinblog.wordpress.com/