Cara Membuat Pupuk Kandang/Kompos
Tinggalkan sebuah balasan
Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk kompos. Kompos dari kotoran ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan bangkai binatang bisa juga menjadi kompos.
Penggunaan Kompos/Pupuk Kandang sangat baik sebagai pupuk tanaman terutama sayur sebagai bahan pokok sehari-hari. Agar hasil tanaman berkualitas dan tidak mengandung resiko bahan kimia yang bisa menyebabkan berbagai faktor penyakit maka pakailah pupuk yang alami seperti Kompos/Pupuk Kandang.
Contoh sepele yakni sayur yang memakai pupuk non organik ulat saja tidak doyan makan daunnya. Maka tak heran dipasaran banyak sayur yang kelihatan bagus dan bersih. Padahal menurut hasil penelitian, sayuran yang baik dikonsumsi adalah sayuran yang terdapat sisa-sisa daun dimakan ulat sebagai bukti sayur tersebut bebas dari bahan kimia atau paling tidak hanya 70 % bahan kimianya.
Berikut langkah – langkah membuat pupuk Kompos dari kotoran hewan:
Persiapan Alat dan Bahan
a. Peralatan
- Sekop/Cangkul
- Saringan/ayakan
- Timbangan
- Sepatu boot
- Sarung tangan
b. Bahan
- Kotoran Ternak (2 ton/2000 kg)
- Starter Stardec 0.25 % (5 kg)
- Bahan Organik (sisa pakan/rumput alang-alang) secukupnnya
- Kapur 3 % (60 kg)
Proses Pembuatan Pupuk Kompos
a. Penimbangan
Bahan yang sudah disiapkan ditimbang terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan standar formulasi yang sudah ditentukan. Persentase penggunaan bahan tambahan disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku kotoran sapi agar dalam proses dekomposisi sesuai dengan apa yang diharapkan.
b. Pencampuran
Pencampuran bahan dilakukan dengan menaburkan bahan-bahan lain pada tumpukan kotoran sapi dengan komposisi;Kotoran Ternak (2 ton/2000 kg), Starter Stardec 0.25 % (5 kg), Bahan Organik (sisa pakan/rumput alang-alang) secukupnnya dan Kapur 2.5 % (50 kg) Penaburan dilakukan sedikit demi sedikit agar bahan tambahan tercampur dengan baik/ homogen.
c. Penumpukan
Tumpukan bahan dibuat dengan diameter tinggi 1.5 sampai 2 meter dan panjang 2 meter membentuk kerucut. Hal ini bertujuan untuk mencapai temperatur tumpukan yang maksimum yaitu 60-70 ºC, hal ini dimaksudkan agar bahan baku kompos cepat dipanen.
d. Monitoring
Pengontrolan dilakukan selama proses dekomposisi berlangsung yaitu setiap satu minggu sekali dengan melihat perubahan yang ditimbulkan. Pada proses dekomposisi, perubahan yang dihasilkan bisa dilihat pada waktu pembalikan berlangsung, yaitu suhu panas yang ditimbulkan bahan baku yang terdekomposisi, tekstur, aroma dan warna.
e. Pembalikan
Pembalikan dilakukan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air (60 % kadara air bahan), serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
f. Pendinginan
Setelah proses pengomposan berjalan selama 30-40 hari suhu tumpukan akan semakin menurun. Pada saat itu bahan kompos akan lapuk dan terlihat berwarna coklat tua serta tidak menimbulkan bau amoniak. Proses pendinginan berjalan selama 15 hari sampai kompos terasa dingin mencapai suhu ruangan yaitu 25 ºC.
g. Penyaringan
Penyaringan dilakukan setelah proses pendinginan selesai sampai kompos benar-benar matang. Penyaringan bertujuan untuk menyelaraskan ukuruan partikel kompos serta memisahkan bahan-bahan yang tidak diharapkan seperti plastik atau benda yang tidak terdekomposisi.
h. Panen/Pengemasan
Pengemasan bisa dilakukan dengan menggunakan karung atau wadah plastik, kompos sebaiknya disimpan di dalam gudang yang aman dari rayap dan kecoa serta terlindung dari hujan dan sinar matahari. Setelah itu kompos sudah bisa digunakan atau dipakai untuk keperluan pertanian.
Sumber : http://rumahmesinblog.wordpress.com/